Powered By Blogger

Minggu, 21 September 2014

Nama Ditembok




Cicak berkejaran di dinding,
Menginjak – injak coretan namamu, tanpa permisi,
Aku tak peduli,
Banyak garis retakan disana, membentang sepanjang namamu,
Huruf ‘S’ terlihat paling parah, huruf ‘Y’ diujung kanan hanya tersenggol sedikit,

Aku tak peduli coretan namamu,
Aku hanya takut tembok itu roboh besok pagi,
Aku benci debu dan reruntuhan puing yang berserakan,
Aku malas mengumpulkan namamu yang berserakan menjadi puing,
 Huruf demi huruf, setiap mereka yang menyimpan bayangmu.

Kubayangkan membuangnya diujung jalan buntu, meninggalkan begitu saja,
Kubanyangkan orang lain memungutnya, mngumpulkan, mengeja namamu,
Sesuatu didalam sini roboh, tak menjadi puing,
Hanya debu, terhirup menyesakan dada,
Membunuh perlahan.

Kamu Dibawah Hujan

Juli musim kemarau,

Hari ini Tuhan sedang baik,

Dia turunkan ribuan bidadari dalam tiap bulir air,

Bulir yang menghantam daratan,

Bulir yang membelai tubuhmu,

Bulir yang menarik senyumku.


Aku bersyukur pada-NYA untuk hujan ini,

Beruntungnya aku tak punya payung,

Aku bisa melihat versi tercantik dirimu dalam riasan hujan,

Kuharap Desember nanti kita masih begini,


Ada banyak hujan disana.

Bunga Tanpa Nama

Kusimpan bunga yang kau beri,
Didalam sini, di tempat yang aman,
Bunga yang mekar oleh senyummu,
Bunga yang kau hirup wanginya,
Bunga yang kaunamakan namamu.

Bunga itu, yang tak lagi terlihat seperti bunga,
Bunga yang mati saat kau petik,
Bunga yang berubah cokelat,
Mengering diselimuti debu,
Mati ditinggal langkahmu yang kian jauh,

Bunga yang tak kuingat lagi namanya.

Selasa, 19 Agustus 2014

Jalan Berputar


Apa yang kupikirkan?
Mengapa aku berjalan dengan sepasang sepatu renta ini?
Mengapa tak seperti mereka yang bisa terbang?
Aku takut terbang, tapi aku lebih takut mengakuinya.

Aku merunduk dibawah lampu jalan yang bersinar remang,
Menatapi jalan yang akan dilahap sepatu renta ini,
Berharap ada sekeping uang satu juta rupiah,
Mustahil,
Tuhan mendengar apa yang kita ucapkan, bahkan didalam hati,
Bisa saja ada sekeping satu juta rupiah yang berkilau tenang disini,
Aku tak mengharapkannya, hanya senang bila memang ada,
Aku tak bergantung pada keajaiban, hanya mempercayainya,
Percaya pada-NYA.

Jalan didepan sana masih panjang,
Mereka sudah bilang bumi itu bundar,
Akan ada letih yang menahan, dan semangat yang menggerakan,
Tak akan habis jalan ku lahap, sejauh apapun aku berjalan, aku kan kembali,

Kembali pada-NYA, Yang Maha Memiliki.

Lukisan-NYA


Matahari menyelam ditengah laut yang tenang,
Tadinya wujudnya hanya setengah, dihiasi sinar jingga,
Kemudian tenggelam, tapi banyak yang enggan membiarkan itu terjadi,
Membiarkan matahari tenggelam.
Pemandangan indah nan klise,
Beratus kali aku melihat yang seperti itu,
Dalam kertas gambarku, dan ratusan karya tangan teman kelas.

Kami sedang bermain Tuhan, kertas itu dunianya, duniaku, dunia kami,
Tuhan melukis semesta, kami juga,
Ingat lyric lagu pelangi,
Yang Maha Agung melukis pelangi,
Setidaknya kami juga Yang Maha Agung,
Aku mengatur warna yang akan terwujud dikertas putih yang membosankan ini,
DIA mungkin juga berkata demikian, mewarnai semesta putih yang membosankan,

Menjadi lebih... Tergantung anda yang melihatnya.

Rabu, 09 Juli 2014

Noda Jari Kelingking



Kubiarkan jari kelingking ini tetap bersih di bulan putih,
Ku tak mau ikut bertanggung jawab karena berdiri disisinya,
Mereka yang diduga menyembah berhala
Atau mereka yang diduga menyembunyikan senjata.

Selalu ada pilihan lain dari dua yang diberikan,
Kuhargai usaha kalian menjual diri,
Kuhormati mereka yang mendewakan idola,
Tapi Aku tidak sedang ada di arena panggung idola.

Selamat Malam


Izinkan tubuh ini mencumbu ranjang,
Hiraukan matahari yang sedang menjalankan tugasnya,
Aku memasuki pintu mimpi, semoga ada dia didalam.

Pagi itu cantik rupawan, tapi tak pernah semanis malam.
Aku berharap malam lebih lama memeluk semesta.

Selamat malam pagi, aku ingin kau temani tidurku.
Hari telah dipenghujung malam, mentari sudah berias cantik di ufuk,

Hariku selesai.