Powered By Blogger

Jumat, 25 Mei 2012

Benih Dalam Alkohol


Alkohol sebenarnya bukan sesuatu yang akrab dengan lidah Sarah, dia hanya berspekulasi dari apa yang dia lihat di televisi−alkohol bisa menenangkan pikiran, melupakan masalah, tertawa lepas sambil meneteskan air mata. Menangis bersamaan. Bagaimana bisa? Tentu saja, Sarah sudah membuktikannya mengenai hal itu−tertawa sambil menangis. Tapi sama sekali dia bukan orang gila yang cengeng. Belakangan ini dia sering menghabiskan waktu bersama beberapa gelas anggur merah dan berbagai merk bir. Tentu saja hal itu membuat kepala menjadi berat, apa lagi peminum amatiran seperti dia.
Kelopak matanya terbuka tak terlalu lebar, lebih rendah dari biasanya. Tangannya masih cukup kuat untuk mengusir hidung belang yang menggoda, mencoba meraba−menjauh meninggalkannya, minimal mereka mendapat bekas merah dipipi.
Dia tak ingat berapa gelas alkohol yang ditenggaknya. Yang dia tahu dia harus membayar tagihannya belakangan.
Dengan tingkat kesadaran seadanya, Sarah merasakan seseorang duduk disebelahnya, meja yang sama−bangku yang berbeda. Diletakannya gelas yang masih kental aroma alkohol, posisi tangannya yang tadi mengenggam gelas berganti mengepal. Tinjunya siap melayang dipipi lelaki disebelah kanannya.
Sarah menoleh kesebelah kanannya, kelopak matanya terangkat merespon keterkejutannya. Dia kenal lelaki itu, tidak bukan begitu−dia hanya tahu lelaki itu. Sarah tahu benar rambut ikal, sorotan mata tajam dan kulit putihnya. Dari artikel yang pernah dibacanya di internet, dia tahu benar kalau lelaki ini sudah seharusnya terbakar bersama api neraka sejak tahun 1971.
Jim, apa dia baru naik dari neraka? Tentu saja. Sarah bisa melihat bara api kecil dari celana kulitnya. Sarah berpikir Jim lolos dari api neraka yang seharusnya meleburkan tulang – tulangnya. Kulit di bagian dadanya masih putih bersih selayaknya ras kulit putih biasanya. Badannya tak terbungkus sehelai benangpun, seperti yang biasa Sarah lihat di foto.
“Jim, apa yang kau lakukan disini?” Bau alkohol menghambur dari mulut, bersamaan dengan pertanyaan Sarah kepada lelaki yang dipanggilnya “Jim”.
Lelaki itu tak merespons pertanyaan Sarah, sepertinya dia menganggap Sarah dalam kendali alkohol. Meracau tak keruan sampai salah terka terhadap dirinya. Wanita pemabuk yang malang.
“Jim, bagaimana kau bisa sampai disini. Apa kau telah bertemu tuhan, bagaimana rupaNya?” Sarah masih saja melontarkan pertanyaan aneh. Alkohol memegang kendali otaknya.
“Aku sudah lama mengagumi parasmu. Aku bahkan pernah berfantasi dengan mu.” Kali ini ucapan Sarah yang dibawah kendali alkohol menarik perhatian lelaki itu.
“Kau panggil aku apa, dan yang kau bilang?”
“Jim. Jim Morrison kan? Aku bilang, aku mengagumi parasmu. Beberapa lagumu juga aku suka.” Lelaki itu tahu mengenai nama yang disebut Sarah. Dia berpikir wanita gila ini yang memulainya. Rasanya tak apa kalau dia mengambil sedikit keuntungan.
“Ya, tentu saja. Aku naik dari neraka yang panas, mencari tempat yang lebih hangat...” Lelaki itu memang berbicara ngalor – ngidul, seperti mengarang bebas. Tapi yang sampai ditelinga Sarah, lantunan tembang “hello i love you” dari The Doors. Dinyanyikan langsung oleh Jim Morrison yang bangkit dari neraka dan bersandar di pundaknya. Dengan kehangatan dan sisa – sisa panas api neraka yang menguap habis di udara. Di langit – langit bar yang kini telah berubah menjadi langit – langit hotel kelas melati yang berjajar disebelah bar.
Sarah tidak memegang kendali apapun, alkohol menguasai kepalanya dan lelaki yang dipanggilnya “Jim” menguasai birahinya. Buih bir yang menyatu dengan keringat lelaki itu menyatu dan bercampur dengan keringat rasa anggur merah sarah. Sampai klimaksnya, buih – buih bir dalam tubuh lelaki itu mengalir ke dalam tubuh Sarah. Menuju rahimnya.
Sarah berusaha mengingat apa yang sebenarnya terjadi kemarin dan siapa lelaki itu? Apa dia benar pendosa yang naik dari panasnya neraka untuk mencari kehangatan−ya, kehangatan yang dengan mudah diberikan oleh Sarah, ditukar dengan benih alkohol yang mendekam dirahimnya. Atau lelaki itu tak lebih dari bajingan yang memanfaatkan kebodohan Sarah. Kebodohan akan kekagumannya dengan paras rupawan bajingan kulit putih yang jadi idolanya. Ditambah kebodohannya dalam menakar kadar alkohol yang mampu diterima otaknya.
Sarah menatap layar ponsel yang menampilkan gambar Jim Morrison, sambil sesekali menyebarkan pandangannya melihat lelaki yang hilir mudik di dalam bar. Dia belum menemukan wajah yang persis seperti dilayar ponselnya.
Semakin lama Sarah tak menemukan lelaki yang dicarinya. Dia menurunkan standar syarat kemiripan lelaki yang dicarinya dengan lelaki yang ada di layar ponselnya. Saat ini dia sedang sadar−tidak dibawah pengaruh alkohol, mana mungkin ada lelaki disini yang identik dengan lelaki yang ada di ponselnya. Minimal rambut ikalnya sama, maka dia akan langsung menghampiri lelaki itu, dia tidak berminat menuntut apapun. Dia hanya ingin memastikan makhluk yang dia panggil “Jim” itu nyata adanya−bukan iblis yang naik dari neraka atau fatamorgana yang diproyeksikan alkohol dalam otaknya saat itu. Begitulah yang ada dibenaknya.
Sarah sebenarnya sudah mulai melupakan tentang kejadiannya di bar bertahun – tahun lalu, sampai pada akhirnya anaknya yang kini berusia lima belas tahun mulai cerewet menanyai tentang sosok ayah yang darahnya mengaliri tubuhnya.
“Aku tidak tahu pasti keberadaan ayahmu sekarang.” Sarah memberi penjelasan yang sama sekali tidak memuaskan bagi putranya.
Bukan salahku, alkohol menguasai kepalaku. Cairan haram itu menggantikan peran darahku mengaliri tubuh. Membanjiri otakku, semua jadi terlihat berlebihan. Aku mengimbangi adrenalin itu, dia seperti menantangku. Aku tak mau kalah. Kuikuti permainannya, bukan melawannya.
Lelaki yang kupanggil Jim, dia rupawan seperti malaikat yang sayapnya terbakar habis api neraka. Dia menguasai birahiku dan memanfaatkan tubuhku dengan baik. Buih alkohol yang ditenggaknya bergelas – gelas tercampur dengan janin yang membentuk dirimu, mengalir kerahimku. Kami bertiga dalam satu ruangan kamar yang pengap. Aku, lelaki yang ku panggil Jim dan alkohol yang merasuki kami.
Sarah hanya berani berucap dalam hati, sambil mengusap rambut ikal dan bertatapan dengan sorot mata tajam putranya. Dia menamai putranya Jim.
*****
Tingkat kesadaran Sarah dibawah lima puluh persen, sisanya diisi oleh adrenalin, fatamorgana dan segala macam ilusi yang berlebihan. Lambungnya terasa seperti gunung berapi aktif yang sudah memasuki kondisi siaga satu−siap meletus menyemburkan lava pijar dan abu vulkanik. Dia takluk oleh kadar alkohol tiga puluh lima persen yang ditenggaknya beberapa gelas.
“Kau rupanya,” ujar Sarah sambil menatap kearah air kuning emas di gelas yang ada dihadapannya. Dia menyapa lelaki yang duduk disebelahnya. Tanpa menatap kesebelah, dia bisa merasakan kehadiran seseorang yang menurutnya “Jim” si lelaki itu.
“Aku tidak akan menerima janin mengandung alkohol lagi. Beradu birahi dibawah alkohol, tidak memberi kenikmatan apapun.” Sarah berusaha memegang kendali, dari segala yang pernah menguasainya dimasa lalu. Yang mengalahkannya, yang membuatnya mengikuti permainan itu.
“Kembali saja kau ke neraka, tempat asalmu.”
Sarah beranjak dengan segenap kesadaran yang tersisa. Cairan itu terlanjur membanjiri otaknya, dipompa oleh jantung keseluruh tubuh. Adrenalin berdetak seiring detak jantungnya yang tak beraturan−adrenalin yang tak tersalurkan, memacu jantungnya berdetak lebih cepat. Keringat merembes keluar dikeningnya.
“Anakmu menitipkan salam. Dia anak laki – laki, lima belas tahun usianya.” Ujar Sarah sambil menghentikan langkahnya sejenak.
Sarah terjatuh dilantai bar, mulutnya bergumam tak keruan. Jim−putranya, menatap penuh iba sekaligus jijik. Pertanyannya tentang asal – usul dirinya sedikit terjawab.





Kamis, 03 Mei 2012

Dialog



Angin hanya berhembus dari putaran kipas angin kamar, suasana tidak terlalu heningsuara detak jam dinding tak henti memainkan irama datar yang teratur. Jarumnya menunjukkan pukul dua dinihari. Terlihat, meskipun suasana ruangan kotak ini gelap tanpa cahaya. Tak ada alasan hanya terlihat begitu saja, atau tak lebih dari sekedar feeling? Terserah. Dari ruang gelap kita bisa melihat isi ruang terang, dari ruang terang kita tak bisa melihat isi ruang yang gelap. Selalu begitu.
Nunggu siapa?” suara seseorang atau makhluk apapun memecahkan kekhusyuk’an lamunan.
“Bukan siapa,” aku menjawab pertanyaannya. Tapi malah membuat dia makin bingung.
“Maksudnya bukan orang?” Tatapannya makin bingung. Rautnya menunjukan perasaan ganjil yang ditujukannya padaku.
Sebenarnya aku tidak melihat raut wajahnya, aku sendiri tidak yakin kalau lawan bicaraku ini punya wujud. Tapi kemungkinan dia menganggap ku gila, depresi atau suka berkhayal. Nah asumsi yang terakhir terdengar paling bagus.
“Tepat. Aku tidak menunggu seseorang.”
“Lantas apa?”
“Entahlah. Mungkin bisa disebut anugerah, ilham atau mukjizat.” Aku menjawab seadanya. Spontan yang ada dimulut. Entah harus menggambarkan sesuatu itu dengan apa. Mungkin; anugerah, ilham atau mukjizat bisa juga. Tapi mukjizat sepertinya berlebihan.
“Mukjizat, kau mengaku nabi sekarang?” aku tak menjawabnya.
Suasana hening, dia sudah pergi atau masih disebelahku? Persetan, ruangan ini gelap. Aku bahkan tidak bisa melihatnya dari tadi, hanya suara. Aku memilih melanjutkan saja dialog atau monolog ini. Yang jelas ada percakapan disini.
“Aku tidak mengaku nabi, Dia akan melaknatku nanti. Aku tidak seberani itu.”
Tak ada jawaban. Pikiranku bertanya, apa dia masih disini? Mendengar? Dan melanjutkan percakapan? Ahh aku tak peduli, aku terkadang berbicara sendiri. Itu cukup menyenangkan.
“Baik, mungkin menganggap itu sebagai mukjizatagak berlebihan.”
“Sebenarnya itu terserah pendapatmu saja. Aku bebas, tidak memeluk suatu agama. Tapi percaya akan adanya Tuhan. Dan sebisa mungkin menyembahnya.” Suaranya muncul kembali, melanjutkan percakapan.
“Emm, kedengarannya menarik. Bagaimana caranya?” Sekarang aku yang dibuat penasaran oleh ucapannya. Menarik juga dia.
“Tidak. Aku tidak akan memberitahu.”
“Kenapa?”
“Kau harus menyembah tuhan melalui agama, seperti yang selama ini kau lakukan.” Dia terdengar lebih bijak sekarang.
“Kenapa?”
“Kita berbeda. Maksudku, aku bukan makhluk sepertimu.” Dia benar – benar membuatku bingung sekarang. Baiklah, mungkin aku mengerti sedikit maksudnya. Tapi tentang dirinya, bukan tentang ucapannya mengenai Tuhan dan menyembah dengan agama.
“Bisa kau tarik kesimpulannya saja.” Ucapku agar perkataannya tak semakin membuatku menggaruk kepala.
“Aku bukan manusia. Aku tak perlu menghadap Tuhan dan tak perlu berakhir di surga atau bahkan hancur tersiksa dineraka. Kau akan kesulitan menyembah Tuhan tanpa melalui agama.”
“Perkataan mu masuk akal. Lanjutkan.” Aku menikmati kuliahnya. Hal yang tak pernah kurasakan diperkuliahan dunia nyata.
“Aku tidak mau melanjutkannya, aku takut salah ucap.” Dia terdengar semakin bijaksana sekarang. Mungkin aku bisa memintanya menemaniku tiap malam. Berdiskusi atau membicarakan apapun. Dia cukup menyenangkan sebagai lawan bicara.
“imagine there’s no heaven, it’s easy if you try, no hell below us, above us only sky.
Imagine all the people, living for today.” Potongan lagu imagine dari John Lennon, spontan keluar dari mulutku. Dengan irama. Seingatku aku tak pernah bernyanyi didepan orang. Aku pemalu. Tapi ini keadaannya lain, dia bukan orang dan aku tak tahu apa dia sebenarnya.
“Nyatanya itu tak akan pernah mudah. Seperti yang John katakan.” Dia menanggapi potongan lirik yang kunyanyikan.
“Ya, karena John hanya bermaksud menyinggung tentang perdamaian dunia. Bukan tentang surga, neraka, agama atau tuhan. Dia muak dengan peperangan yang diciptakan manusia, dengan berbagai alasan.” Ini hanya pandangan dan kesimpulanku dari lagu imagine.
“Hey, bagaimana dengan obrolan kita sebelumnya? Mengapa jadi melebar kesini? Mana dia tadi? Mana yang kau tunggu? Siapa atau apa itu yang kau tunggu?” Aku bisa merasakannya, banyak tanda tanya menghambur dari ucapannya. Aku tidak langsung menjawab peratanyaannya yang berderet itu. Aku tersenyum.
“Ayolah teruskan, kau membuatku penasaran.” Awalnya dia yang penasaran dengan ucapanku, lalu aku penasaran dengan ucapannya, kemudian dia kembali penasaran dengan ucapanku. Aku tersenyum. Ini agak lucu, menurutku.
“Aku menuggu, emm... akan terdengar agak lucu, kau boleh tertawa sesukamu nanti. Aku juga akan tertawa.”
“Emm, biarku dengar.” Dia terdengar tak sabar, tapi dia akan kecewa nanti. Rasa penasarannya tak akan setimpal dengan jawabanku.
“Aku menunggu imajinasi. Imajinasi Nya datang kepadaku dan memberi sesuatu. Apapun untuk kulihat dan ku olah jadi apapun.”
“Aku hampa tanpanya, imajinasi itu.” Tak ada suara tawa, dia tak tertawa. Kecewa mungkin.
“Emm, cukup menyentuh. Masuk akal. Tapi tak ada bagian lucunya.”
“Haha, maaf mengecewakan.”
“Nah itu baru ucapan yang lucu.” Dia sedikit tertawa sebelum berucap.
“Buka sekarang.” Aku bingung. Apa maksud ucapannya? Buka apa?
“Maksudnya?”
“Kau menungguku kan.” Menunggunya? Dia terlalu narsis atau apa? Atau dia..
“Aku apa yang kau sebut tadi. Sesuatu yang kau sebut seperti anugerah atau ilham. Itu sedikit membuatku kikuk. Itu termasuk pujian kan?” Aku mengerti ucapannya, sangat mengerti. Sebenarnya aku sempat berpikir dia hantu atau jin atau makhluk halus lainnya. Tapi untunglah dia bukan semua itu. Dia bisa membuatku histeris dengan penampakannya yang menyeramkan. Konyol.
“Hey, aku bisa mendengar pikiranmu. Kita sangat dekat sekarang.” Aku tidak terkejut lagi menanggapi ucapannya.
“Silahkan masuk. Aku siap kapanpun. Mahkluk atau sesuatu sepertimu memang selalu datang tiba – tiba kan? Tunjukan gambaran atau apapun itu sekarang.”
Aku melihat cahaya. Bukan. Bukan begitu, aku tak melihatnya, aku merasakannya. Pikiranku  akan bekerja seperti proyektor yang memproyeksikan segala apapun yang dia berikan. Memproses menjadi apapun nantinya, yang tak terencanakan.
Ruangan ini tetap gelap dan agak hening, hanya ada suara detak jam yang berdetak teratur. Tidak demikian didalam sinidipikiranku, banyak sekali proyeksi – proyeksi, suara – suara dan warna.
Aku mendengar suaranya lagi, tapi tidak melalui telingapikiranku. “Luar biasa,” aku menjawab pertanyaannya tentang perasaanku.
“Banyak,” kali ini dia bertanya tentang apa yang aku lihat, dengar dan rasakan.
Sepertinya dialog ini akan terus berlanjut. Meski dia tak mengeluarkan suara secara langsung, tapi aku bisa mendengarnya melalui pikiranku.
Dia meng-iyakan pendapatkudia menjelaskan, hal yang selama ini kuanggap diriku berbicara sendiri, ternyata aku sedang berdialog dengannya. Ternyata aku tidak berbicara sendiri, syukurlahaku pikir aku gila. Dia ada dalam kepalaku.
“Jadi kau teman imajinatif atau bagian dari diriku yang lain?” Aku bertanya tentang posisinya dalam diriku.
Dia menjelaskan agak panjang lebar dan tentunya hanya aku yang dengar. Kesimpulannya dia lebih suka dipanggil teman, karena kalau dia kuanggap bagian diriku yang lain, itu sama saja dengan aku bicara sendiri.

Kamis, 26 April 2012

Aku Tidak Sakit



Aku merasa baik – baik saja, bahkan dokter dan perawat juga berpendapat demikian. Menurutku. Mereka tidak memberi obat, hanya menanyai beberapa hal aneh tentang dirikuapa yang kurasakan. Tentu saja aku bilang; “aku merasa baik”.
Sully memang tahu benar keadaanku. Dia tidak pernah bilang aku sakit. Dia tidak pernah membesuk ku saat aku dua hari menginap dirumah sakit. Mungkin dia masih sibuk dengan pekerjaannya sebagai akuntan. Dia memang selalu sibuk, bahkan dirumah pun tak jarang dia masih asik bertatapan dengan laptopnyamemanjakan angka – angka yang dengan genit menarik perhatiannya. Tapi akhir – akhir ini dia bilang akan berhenti. Dia ingin menjadi istri yang sebenarnya, yang sibuk dengan urusan rumah tangga. Aku senang dengan pernyataannya, meski untuk sementara ini dia yang menafkahi ku.
Sully punya alasan lain. Bukan karena dia sibuk dengan angka – angka di lembar kerjanya. Dia bilang, dia sependapat denganku. Aku tidak sakit, dia menolak membesukku karena alasan itu. Aku tidak sakit dan tidak perlu di besuk. Ibuku dan kakak perempuanku memang orang aneh, mereka membawaku ke rumah sakit. Aku tidak sakit, dan aku merasa baik.
****
“Kau sayang aku?”
“Tentu saja,” aku menjawab cepat pertanyaan Sully.
“Kau cinta aku?”
“Tentu saja. Ada apa?” Aku bingung dengan pertanyaannya.
“Nikahi aku secepatnya.” Pernyataan Sully mengagetkanku.
Jujur saja aku belum siap, aku masih dua puluh tiga tahun dan tidak punya apa – apa. Aku pernah memasang target menikah diatas usia dua puluh lima, dua puluh tujuh atau dua puluh delapan mungkin. Bahkan aku belum wisuda, masih tiga bulan lagi. Aku pengangguran, aku nafkahi apa dia nanti? Dan tentu saja, pernikahan butuh biaya yang tidak sedikit. Lalu apa reaksi keluargaku nanti, jika mengatakan mau menikah dalam waktu dekat?
Bahkan pernikahan Rani, kakak perempuanku masih awal tahun depan. Itupun sudah direncanakan, bagaimana dengan yang tiba – tiba seperti ini? Rasanya tidak mungkin. Kecuali....
“Kamu enggak mau?”
“Kamu enggak siap, takut atau apa?” Sully memberondongku dengan pertanyaan.
“Ini terdengar agak aneh dan terlalu terburu – buru. Aku belum siap dalam segi apapun.” Begitu pembelaanku.
“Tapi kita harus.” Aku bingung dengan kata “harus” yang dikatakannya.
“Harus?” Aku mengirim isyarat pertanyaan.
“Bayi lahir dalam usia kandungan sembilan bulan. Begitupun calon anak kita.”
Ini yang kumaksud tadi. Ini maksud dari kata “kecuali” dalam pikiranku. Sully tampak mengelus perutnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Aku hanya bisa berkeringat dengan degup jantung tak keruan.
****
Aku mulai pontang – panting mencari kerja. Bahkan sebelum upacara peresmian gelar sarjanaku dilaksanakan. Wisuda, aku sudah tak peduli lagi. Ada hal lebih penting yang bersemayam dipikiranku dari pada upacara itu. Aku punya Sully dan calon anak kami.
Sudah dua bulan semenjak acara resepsi pernikahan aku masih menganggur. Aku tidak mau terus begini, termasuk masih tinggal bersama orangtua. Aku tidak mau berakhir seperti tetanggaku yang menumpuk cucu dirumah orang tuanya. Sully lebih siap dengan semua ini, dia memang selalu berpikir lebih dewasa dari pada aku. Ya, dia memang lebih tua empat tahun dariku. Dia sudah bekerja sebagai akuntan dua tahun belakangan ini. Dia tidak mempermasalahkan hal itu, statusku sebagai pengangguran.
Ibuku terlihat semakin kurus dan rambutnya semakin berganti kelir warna putih. Dia mungkin masih agak shock dengan pernikahanku yang tiba – tiba dan calon cucunya yang diperkirakan dalam tujuh bulan akan menambah anggota keluarga kami. Gunjingan, cibiran dan apapun yang buruk – buruk tentang pernikahanku dengan Sully yang tiba- tiba. Hal – hal semacam itu yang berperan memicu uban dan penurunan berat badannya.
****
Pikiranku melayang kemana – mana. Bercabang seperti tanaman rambat. Membelit pagar, merayap ditanah, menjuntai dan menggantung dicelah – celah lubang pagar.
Angin dingin sore yang mendung hari terasa menerpa dari arah depan, aku melaju seperti melawan arus. Sully memelukku dari belakang di jok belakang motor. Aku merasakan kelelahannya setelah seharian bekerja, bergelut dengan angka – angka dan inputan data – data di layar komputer. Aku menjemputnya dari tempat kerjanya. Sejauh ini hanya itu kontribusiku untuk keluarga kecil kami.
Kami bahagia dengan keluarga kecil kami, kami berdua. Semenjak kami tinggal bersama dirumah keluargaku, suasana rumah menjadi terasa dingin. Aku tak ingat, kapan terakhir kali aku berbicara dengan kakak perempuanku. Bicara dengan ibuku pun bisa dihitung dengan jari dalam sebulan ini. Semua jadi aneh, tapi aku tak merasa mereka memusuhiku. Meski suasana ini terasa aneh untuk sebuah hubungan keluarga.
Lengkingan suara bising menarik pikiranku kembali ke atas jok sepeda motor, setelah melayang dan merambat kemana – mana. Suara itu keras, dari arah sebelah kanan, sorot lampu mengedip dari arah datangnya suara klakson.
Dekapan Sully semakin erat melingkar diperutku. Wajahnya menoleh kearah kiri. Aku bisa merasakannya bersandar dipunggungku. Dia seperti membuang muka, dia tak ingin bertatapan dengan malaikat maut. Tapi dia terlihat pasrah kepada Nya.
Aku dihantam keras dari arah kanan, terhempas. Semua gelap begitu saja. Aku masih melihat Sully tersenyum dalam background ruang yang hitam.
****
Aku terbaring, tapi langsung tahu ini dirumah sakit. Kepalaku pusing. Aku tak peduli, aku langsung bertanya tentang Sully. Mereka hanya menjawab dengan senyum bibir, tapi dengan ekspresi muka sedih. Membingungkan, aku tak mendapat jawaban yang memuaskan dari pertanyaanku.
****
Aku melihatnya setelah beberapa hari tak bertemu. Wajahnya masih cantik, sama seperti sebelum aku terbaring dirumah sakit.
“Aku kangen kamu sayang,” kalimat pertamaku saat bertemu dia, sambil memeluk tubuhnya.
“Badanmu dingin, kamu sakit?” Tanyaku. Dia menggeleng dan hanya tersenyum.
“Bagaimana anak kita?”
“Masih sehat dan makin aktif gerakannya.” Suaranya lembut dan terdengar sedikit lebih pelan.
Hari – hari kami kembali menyenangkan. Semua ingatan dan luka akibat kecelakaan tak berasa lagi. Keluargaku pun sekarang lebih sering mengajakku berbicara. Suasana hangat kembali.
Tapi ekspresi mereka agak aneh. Terlebih saat aku membicarakan kebahagiaan keluarga kecilku, Sully dan calon anakku.
Saat itu makan malam, aku mengajak Sully untuk makan bersama di meja makan bersama ibu dan Rani, seperti biasanya. Dia menolak, dia menyuruhku makan duluan. Selalu begitu, semenjak aku keluar dari rumah sakit, Sully jadi agak tertutup dengan keluargaku. Aku selalu berinisiatif membawakan makan malam kekamar untuknya.
Mereka, ibu dan kakak ku menggambarkan ekspresi bingung. Meski mereka tak bertanya, aku mengatakan pada mereka,
“Sully agak pemalu sekarang, mungkin karena bawaan kehamilannya,”
“Kuharap kalian mengerti dan tidak berpikir macam – macam tentangnya.”
Mereka terlihat bingung, tapi sepertinya mengerti. Aku menoleh kemeja makan, mereka saling bertatapan, seperti saling melemparkan pertanyaan tanpa suara.
“Ini makan malammu sayang, kamu harus menjaga asupan gizi untuk dirimu dan calon anak kita.” Sully hanya tersenyum.
Dia meletakkan piringnya di meja sebelah ranjang. Kemudian kami ngobrol sampai larut, sampai aku terlelap. Piring dan isinya sudah lenyap setiap pagi, saat Sully membangunkanku.
****
Pagi yang cerah, aku mengajaknya berjalan disekitar perumahan. Ini pertama kali kami keluar bersama semenjak kecelakaan. Kugandeng tangannya yang terasa dingin, dengan tanganku yang lebih hangat. Kami saling berbalas lelucon, tertawa bersama, kemudian menunjuk jari ke sesuatu yang menarik perhatian. Duduk melepas lelah dibangku taman. Membicarakan apa saja, tertawa dan tersenyum menyapa beberapa orang yang dianggap kenal.
Beberapa orang memandangi kami, pandangan mereka seperti heran atau menemukan sesuatu yang ganjil. Ada apa dengan pandangan mereka? Aku tak peduli, yang aku pedulikan quality time bersama Sully.
Aku semakin sering mengajaknya keluar, sambil mengenalkan udara segar kepada calon bayi kami. Tetap saja, setiap orang yang kami temui melemparkan pandangan aneh. Hey, ada apa dengan cara menatap kalian, tak ada yang aneh dengan kami! Aku mau saja melontarkan makian seperti itu kepada mereka, tapi Sully menahanku.
****
“Cukup, kau sakit!” Rani membentakku saat aku kembali membawa makan malam untuk Sully dimalam berikutnya.
“Dia tidak ada, tidakkah kau sadar itu!” Nada bicaranya masih tinggi.
Aku bingung. Ibuku menenangkannya. Aku meninggalkan mereka dan membawa piring makan malam untuk Sully. Aku mendengar mereka berdebat di meja makan.
“Dia sakit bu,” itu suara Rani.
“Dia menganggapnya masih hidup. Istrinya sudah mati saat kecelakaan itu.” Rani terdengar sangat emosional.
“Dokter bilang, dia agak tertekan. Trauma setelah kecelakaan. Dia masih labil Ran.” Ibuku menenangkan Rani.
“Aku muak mendengarnya berbicara sendiri dikamar. Mungkin bicara dengan tembok, bantal, guling. Sambil memanggil mereka Sully. Selanjutnya apa, bercinta dengan guling?”
“Mungkin Sully tidak hamil. Dia hanya ingin menikah karena dia tahu akan segera mati.”
“Cukup Rani! Sekarang kau malah yang terdengar seperti orang gila.” Ibuku membentak Rani.
“Adam yang gila bukan aku.” Suara Rani agak pelan.
“Dia sedang koma saat pemakaman Sully.”
Ibuku bahkan membenarkan ucapan kakak ku. Itu tidak benar sama sekali. Aku melihat dan merasakan Sully, disinisaat ini. Memeluk, menenangkan dan menghapus air mata ini. Itu tidak benar.
****
Ibu mengajakku ke suatu tempat. Dia tidak memberitahu tujuannya. Aku melihat sebuah gapura pemakaman umum. Tanah merah, nisan dan patok kayu sejauh mata memandang.
Dia berhenti disebuah makam dengan nisan yang belum kusam. Mungkin belum lama jasad orang ini dikuburkan didalamnya.
Ini jelas bAku Tidak Sakit
Aku merasa baik – baik saja, bahkan dokter dan perawat juga berpendapat demikian. Menurutku. Mereka tidak memberi obat, hanya menanyai beberapa hal aneh tentang dirikuapa yang kurasakan. Tentu saja aku bilang; “aku merasa baik”.
Sully memang tahu benar keadaanku. Dia tidak pernah bilang aku sakit. Dia tidak pernah membesuk ku saat aku dua hari menginap dirumah sakit. Mungkin dia masih sibuk dengan pekerjaannya sebagai akuntan. Dia memang selalu sibuk, bahkan dirumah pun tak jarang dia masih asik bertatapan dengan laptopnyamemanjakan angka – angka yang dengan genit menarik perhatiannya. Tapi akhir – akhir ini dia bilang akan berhenti. Dia ingin menjadi istri yang sebenarnya, yang sibuk dengan urusan rumah tangga. Aku senang dengan pernyataannya, meski untuk sementara ini dia yang menafkahi ku.
Sully punya alasan lain. Bukan karena dia sibuk dengan angka – angka di lembar kerjanya. Dia bilang, dia sependapat denganku. Aku tidak sakit, dia menolak membesukku karena alasan itu. Aku tidak sakit dan tidak perlu di besuk. Ibuku dan kakak perempuanku memang orang aneh, mereka membawaku ke rumah sakit. Aku tidak sakit, dan aku merasa baik.
****
“Kau sayang aku?”
“Tentu saja,” aku menjawab cepat pertanyaan Sully.
“Kau cinta aku?”
“Tentu saja. Ada apa?” Aku bingung dengan pertanyaannya.
“Nikahi aku secepatnya.” Pernyataan Sully mengagetkanku.
Jujur saja aku belum siap, aku masih dua puluh tiga tahun dan tidak punya apa – apa. Aku pernah memasang target menikah diatas usia dua puluh lima, dua puluh tujuh atau dua puluh delapan mungkin. Bahkan aku belum wisuda, masih tiga bulan lagi. Aku pengangguran, aku nafkahi apa dia nanti? Dan tentu saja, pernikahan butuh biaya yang tidak sedikit. Lalu apa reaksi keluargaku nanti, jika mengatakan mau menikah dalam waktu dekat?
Bahkan pernikahan Rani, kakak perempuanku masih awal tahun depan. Itupun sudah direncanakan, bagaimana dengan yang tiba – tiba seperti ini? Rasanya tidak mungkin. Kecuali....
“Kamu enggak mau?”
“Kamu enggak siap, takut atau apa?” Sully memberondongku dengan pertanyaan.
“Ini terdengar agak aneh dan terlalu terburu – buru. Aku belum siap dalam segi apapun.” Begitu pembelaanku.
“Tapi kita harus.” Aku bingung dengan kata “harus” yang dikatakannya.
“Harus?” Aku mengirim isyarat pertanyaan.
“Bayi lahir dalam usia kandungan sembilan bulan. Begitupun calon anak kita.”
Ini yang kumaksud tadi. Ini maksud dari kata “kecuali” dalam pikiranku. Sully tampak mengelus perutnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Aku hanya bisa berkeringat dengan degup jantung tak keruan.
****
Aku mulai pontang – panting mencari kerja. Bahkan sebelum upacara peresmian gelar sarjanaku dilaksanakan. Wisuda, aku sudah tak peduli lagi. Ada hal lebih penting yang bersemayam dipikiranku dari pada upacara itu. Aku punya Sully dan calon anak kami.
Sudah dua bulan semenjak acara resepsi pernikahan aku masih menganggur. Aku tidak mau terus begini, termasuk masih tinggal bersama orangtua. Aku tidak mau berakhir seperti tetanggaku yang menumpuk cucu dirumah orang tuanya. Sully lebih siap dengan semua ini, dia memang selalu berpikir lebih dewasa dari pada aku. Ya, dia memang lebih tua empat tahun dariku. Dia sudah bekerja sebagai akuntan dua tahun belakangan ini. Dia tidak mempermasalahkan hal itu, statusku sebagai pengangguran.
Ibuku terlihat semakin kurus dan rambutnya semakin berganti kelir warna putih. Dia mungkin masih agak shock dengan pernikahanku yang tiba – tiba dan calon cucunya yang diperkirakan dalam tujuh bulan akan menambah anggota keluarga kami. Gunjingan, cibiran dan apapun yang buruk – buruk tentang pernikahanku dengan Sully yang tiba- tiba. Hal – hal semacam itu yang berperan memicu uban dan penurunan berat badannya.
****
Pikiranku melayang kemana – mana. Bercabang seperti tanaman rambat. Membelit pagar, merayap ditanah, menjuntai dan menggantung dicelah – celah lubang pagar.
Angin dingin sore yang mendung hari terasa menerpa dari arah depan, aku melaju seperti melawan arus. Sully memelukku dari belakang di jok belakang motor. Aku merasakan kelelahannya setelah seharian bekerja, bergelut dengan angka – angka dan inputan data – data di layar komputer. Aku menjemputnya dari tempat kerjanya. Sejauh ini hanya itu kontribusiku untuk keluarga kecil kami.
Kami bahagia dengan keluarga kecil kami, kami berdua. Semenjak kami tinggal bersama dirumah keluargaku, suasana rumah menjadi terasa dingin. Aku tak ingat, kapan terakhir kali aku berbicara dengan kakak perempuanku. Bicara dengan ibuku pun bisa dihitung dengan jari dalam sebulan ini. Semua jadi aneh, tapi aku tak merasa mereka memusuhiku. Meski suasana ini terasa aneh untuk sebuah hubungan keluarga.
Lengkingan suara bising menarik pikiranku kembali ke atas jok sepeda motor, setelah melayang dan merambat kemana – mana. Suara itu keras, dari arah sebelah kanan, sorot lampu mengedip dari arah datangnya suara klakson.
Dekapan Sully semakin erat melingkar diperutku. Wajahnya menoleh kearah kiri. Aku bisa merasakannya bersandar dipunggungku. Dia seperti membuang muka, dia tak ingin bertatapan dengan malaikat maut. Tapi dia terlihat pasrah kepada Nya.
Aku dihantam keras dari arah kanan, terhempas. Semua gelap begitu saja. Aku masih melihat Sully tersenyum dalam background ruang yang hitam.
****
Aku terbaring, tapi langsung tahu ini dirumah sakit. Kepalaku pusing. Aku tak peduli, aku langsung bertanya tentang Sully. Mereka hanya menjawab dengan senyum bibir, tapi dengan ekspresi muka sedih. Membingungkan, aku tak mendapat jawaban yang memuaskan dari pertanyaanku.
****
Aku melihatnya setelah beberapa hari tak bertemu. Wajahnya masih cantik, sama seperti sebelum aku terbaring dirumah sakit.
“Aku kangen kamu sayang,” kalimat pertamaku saat bertemu dia, sambil memeluk tubuhnya.
“Badanmu dingin, kamu sakit?” Tanyaku. Dia menggeleng dan hanya tersenyum.
“Bagaimana anak kita?”
“Masih sehat dan makin aktif gerakannya.” Suaranya lembut dan terdengar sedikit lebih pelan.
Hari – hari kami kembali menyenangkan. Semua ingatan dan luka akibat kecelakaan tak berasa lagi. Keluargaku pun sekarang lebih sering mengajakku berbicara. Suasana hangat kembali.
Tapi ekspresi mereka agak aneh. Terlebih saat aku membicarakan kebahagiaan keluarga kecilku, Sully dan calon anakku.
Saat itu makan malam, aku mengajak Sully untuk makan bersama di meja makan bersama ibu dan Rani, seperti biasanya. Dia menolak, dia menyuruhku makan duluan. Selalu begitu, semenjak aku keluar dari rumah sakit, Sully jadi agak tertutup dengan keluargaku. Aku selalu berinisiatif membawakan makan malam kekamar untuknya.
Mereka, ibu dan kakak ku menggambarkan ekspresi bingung. Meski mereka tak bertanya, aku mengatakan pada mereka,
“Sully agak pemalu sekarang, mungkin karena bawaan kehamilannya,”
“Kuharap kalian mengerti dan tidak berpikir macam – macam tentangnya.”
Mereka terlihat bingung, tapi sepertinya mengerti. Aku menoleh kemeja makan, mereka saling bertatapan, seperti saling melemparkan pertanyaan tanpa suara.
“Ini makan malammu sayang, kamu harus menjaga asupan gizi untuk dirimu dan calon anak kita.” Sully hanya tersenyum.
Dia meletakkan piringnya di meja sebelah ranjang. Kemudian kami ngobrol sampai larut, sampai aku terlelap. Piring dan isinya sudah lenyap setiap pagi, saat Sully membangunkanku.
****
Pagi yang cerah, aku mengajaknya berjalan disekitar perumahan. Ini pertama kali kami keluar bersama semenjak kecelakaan. Kugandeng tangannya yang terasa dingin, dengan tanganku yang lebih hangat. Kami saling berbalas lelucon, tertawa bersama, kemudian menunjuk jari ke sesuatu yang menarik perhatian. Duduk melepas lelah dibangku taman. Membicarakan apa saja, tertawa dan tersenyum menyapa beberapa orang yang dianggap kenal.
Beberapa orang memandangi kami, pandangan mereka seperti heran atau menemukan sesuatu yang ganjil. Ada apa dengan pandangan mereka? Aku tak peduli, yang aku pedulikan quality time bersama Sully.
Aku semakin sering mengajaknya keluar, sambil mengenalkan udara segar kepada calon bayi kami. Tetap saja, setiap orang yang kami temui melemparkan pandangan aneh. Hey, ada apa dengan cara menatap kalian, tak ada yang aneh dengan kami! Aku mau saja melontarkan makian seperti itu kepada mereka, tapi Sully menahanku.
****
“Cukup, kau sakit!” Rani membentakku saat aku kembali membawa makan malam untuk Sully dimalam berikutnya.
“Dia tidak ada, tidakkah kau sadar itu!” Nada bicaranya masih tinggi.
Aku bingung. Ibuku menenangkannya. Aku meninggalkan mereka dan membawa piring makan malam untuk Sully. Aku mendengar mereka berdebat di meja makan.
“Dia sakit bu,” itu suara Rani.
“Dia menganggapnya masih hidup. Istrinya sudah mati saat kecelakaan itu.” Rani terdengar sangat emosional.
“Dokter bilang, dia agak tertekan. Trauma setelah kecelakaan. Dia masih labil Ran.” Ibuku menenangkan Rani.
“Aku muak mendengarnya berbicara sendiri dikamar. Mungkin bicara dengan tembok, bantal, guling. Sambil memanggil mereka Sully. Selanjutnya apa, bercinta dengan guling?”
“Mungkin Sully tidak hamil. Dia hanya ingin menikah karena dia tahu akan segera mati.”
“Cukup Rani! Sekarang kau malah yang terdengar seperti orang gila.” Ibuku membentak Rani.
“Adam yang gila bukan aku.” Suara Rani agak pelan.
“Dia sedang koma saat pemakaman Sully.”
Ibuku bahkan membenarkan ucapan kakak ku. Itu tidak benar sama sekali. Aku melihat dan merasakan Sully, disinisaat ini. Memeluk, menenangkan dan menghapus air mata ini. Itu tidak benar.
****
Ibu mengajakku ke suatu tempat. Dia tidak memberitahu tujuannya. Aku melihat sebuah gapura pemakaman umum. Tanah merah, nisan dan patok kayu sejauh mata memandang.
Dia berhenti disebuah makam dengan nisan yang belum kusam. Mungkin belum lama jasad orang ini dikuburkan didalamnya.
Ini jelas bukan makam almarhum ayahku, makamnya beberapa ratus meter dari makam ini. Tapi masih di komplek pemakaman yang sama. Ibu menabur kembang, aku melihat nisan makam. Benar saja, baru dimakamkan sebulan yang lalu. Namanya? Tidak mungkin.
“Ini makam istrimu nak,” suaranya pelan agak terisak.
Aku tak menjawab ucapannya.
“Sabar dan terimalah kenyataannya. Kami juga sayang dia.” Dia masih berkata, tapi semakin pelan, tersamar isak tangisnya.
Tidak mungkin istriku yang terkubur disini. Aku ingat, dia yang membangunkanku tadi pagi dan berbicara sepanjang malam. Kepalaku pusing, terasa ringan dan semua gelap.
****
Ibuku mengadakan selamatan peringatan empat puluh hari kematian. Aku mendengar ustad berkata tentang mengirim do’a untuk almarhumah Sully. Aku tertawa mendengarnya, Sully pun tersenyum. Aku menganggap mereka gila.
Aku menceritakan semua perkataan ibu kemarin kepadanya. Kami tertawa.
“Mereka bilang kamu meninggal,” ujarku. Dia hanya tersenyum.
“Mereka bilang aku sakit.”
“Kamu enggak sakit sama sekali sayang.” Sully berkata sambil tersenyum.
Kami tertawa. Dia benar, aku tidak sakit. Sayup – sayup suara ayat suci berkumandang dari ruang tengah. Kami masih tertawa. Aku tidak sakit, bahkan sehat dan senang.
 ukan makam almarhum ayahku, makamnya beberapa ratus meter dari makam ini. Tapi masih di komplek pemakaman yang sama. Ibu menabur kembang, aku melihat nisan makam. Benar saja, baru dimakamkan sebulan yang lalu. Namanya? Tidak mungkin.
“Ini makam istrimu nak,” suaranya pelan agak terisak.
Aku tak menjawab ucapannya.
“Sabar dan terimalah kenyataannya. Kami juga sayang dia.” Dia masih berkata, tapi semakin pelan, tersamar isak tangisnya.
Tidak mungkin istriku yang terkubur disini. Aku ingat, dia yang membangunkanku tadi pagi dan berbicara sepanjang malam. Kepalaku pusing, terasa ringan dan semua gelap.
****
Ibuku mengadakan selamatan peringatan empat puluh hari kematian. Aku mendengar ustad berkata tentang mengirim do’a untuk almarhumah Sully. Aku tertawa mendengarnya, Sully pun tersenyum. Aku menganggap mereka gila.
Aku menceritakan semua perkataan ibu kemarin kepadanya. Kami tertawa.
“Mereka bilang kamu meninggal,” ujarku. Dia hanya tersenyum.
“Mereka bilang aku sakit.”
“Kamu enggak sakit sama sekali sayang.” Sully berkata sambil tersenyum.
Kami tertawa. Dia benar, aku tidak sakit. Sayup – sayup suara ayat suci berkumandang dari ruang tengah. Kami masih tertawa. Aku tidak sakit, bahkan sehat dan senang.