Powered By Blogger

Sabtu, 12 Januari 2013

.....



Saat suara enam senar gitar tak lagi menyanyikan irama,
Gemuruh jukebox tak lagi bising terdengar,
Ruangan senyap, hanya terdengar detak jarum jam,
Aku mungkin sudah tenggelam mengambang.
“there’s a feeling i get when i look to the west,
And my spirit is crying for leaving”. Robert plant.
Aku tak mungkin lagi berminat menatap kearah barat,
Saat isi kepala berhamburan entah kemana,
Gelap bisa kulihat kapan saja, tak perlu menunggu malam.
There’s a lady who’s sure all that glitters is gold, and she’s buying a stairway to heaven”. Robert plant.
Mengapa mereka menciptakan kesenangan bersamaan dengan mereka menciptakan uang?
Apalah artinya, seberapa berharga uang, jika kesenangan sudah bersemayam didalam?
“it makes me wonder, really makes me wonder”. Robert plant.
“there are two paths you can bo by, but in the long run, there’s still time to change the road you’re on”. Robert plant.
Kapan aku akan menyadari jalan yang kulalui sesuai tujuan?
Kapan aku akan meyadari jalan yang kulalui benar, benar menurut mereka, benar menurut NYA?
Kapan aku akan menyadari jalan yang kulalui hanya jalan yang berputar?
Bagaimana aku akan tahu lebih dini kalau ujung jalan ini buntu?
Kapan aku akan berhenti berjalan? Saat lelah? Saat aku sudah bisa terbang?
“and if you listen very hard, the tune will come to you at last,”
“when all is one and one is all, to be a rock and not to rol.”.  Robert plant
Saat segala bentuk suara masih menggema, mengalun, bersenandung dari dalam,
Kupastikan aku masih baik – baik saja..
kutipan dari “stairway to heaven” Led Zeppelin

Sabtu, 01 Desember 2012

Kembali



Gerimis turun dibawah sombongnya matahari jam duabelas siang,

Aku berjalan pelan, menjaga jarak denganmu yang ada dibelakang,

Agar tak jauh tertinggal,

Berharap kau memanggilku kembali,

Sebelum wujudku mengabur dari jangkauan matamu.

Sebelum DIA memanggilku lebih dulu,

Untuk kembali padaNYA, berpulang, berpulang.

Gerimis pudar dari pemandangan langit,

Aku tak melihat pelangi,

Aku harap dia ada, dari sorot matamu,

Melengkung dilangit, jatuh dipunggungku,

Membuat jembatan diantara kita, memberi jalanku kembali, memanggilku,

Sebelum DIA memanggilku kembali,

Berpulang, berpulang, berpulang

Sabtu, 10 November 2012

Menolak Apatis


Indonesia, iklim tropis yang sama seperti dahulu. Iklim politik yang semakin memanas, dengan demokrasi yang menjadi slogan. Ya, hanya slogan−tapi tidak juga, mungkin lebih tepatnya basa – basi. Seperti itukah? Selalu membingungkan membicarakan politik bagi saya, karena saya tidak pernah mempelajari itu, hanya menyerap beberapa tentang praktek perpolitikan dari media – media. Tapi saya selalu menolak untuk apatis untuk yang satu ini, minimal mengetahui apa yang terjadi dinegeri ini, apa yang dilakukan mereka terhadap negeri ini? Ya, mereka, para pejabat politik negeri ini, dari senayan sampai kantor – kantor dinas pemerintahan di pedesaan.
Kalau sudah menyangkut tingkah laku pejabat yang semakin aneh, kebijakan pejabat yang semakin aneh dan banyak lagi hal aneh kalau sudah menyangkut pola pikir pejabat yang seringnya tak bisa saya terima. Kebijakan yang mereka buat, sedikit – banyak berpengaruh dikehidupan saya atau kita. Itu pasti. Saya menolak apatis.
Mengapa saya katakan menolak apatis? Sekarang masih banyak juga rakyat negeri ini−terutama anak muda, generasi yang banyak disebut – sebut sebagai penerus bangsa (meskipun tidak disebut anak muda seperti apa yang akan menjadi generasi penerus), bersikap apatis. Mungkin mereka tidak merasakan dampak pemerintahan saat ini yang berefek pada kehidupan mereka. Apa bisa begitu? Padahal kita hidup di negeri yang sama. Mereka (pejabat negara) menghancurkan negeri ini, kehidupan kita juga yang hancur, nama Indonesia di dunia internasional akan jelek.
Mereka mengacaukan negeri ini? mengapa tidak. Kebijakan mereka banyak yang aneh (yang menguntungkan pribadi, golongan dan merugikan rakyat). Simpelnya, dari semua kebijakan yang mereka buat, ada yang mengganggu anda? Kalau iya, pasti ada alasan mengapa anda menentang dan mengapa mereka mengeluarkan kebijakan yang bertentangan dengan pendapat anda. Alasan mana yang lebih mengarah pada kebaikan (kebaikan bersama, kebaikan kehidupan negeri ini), maka itu yang harus diutamakan untuk dijadikan suatu kebijakan di negeri ini.
Kalau anda atau kalian atau kita apatis, mereka akan semakin semaunya saja menjadikan negeri ini istana mereka. Karena banyak juga dari mereka yang menduduki kursi jabatan hanya mengincar pangkat dan uang. Meskipun masih ada yang benar – benar ingin membangun negeri ini. Kalian? Hanya seperti hewan ternaknya yang diambil daging, susu, telur bahkan dikuliti untuk dijadikan karpet atau mantel. Pajak yang kalian bayar, suara yang kalian berikan setiap pemilihan umum−tak kalian dapat timbal baliknya.
Seharusnya anda masih bersyukur ada demonstrasi mahasiswa atau buruh yang terkadang mengganggu perjalanan anda. Setidaknya mereka para demonstran masih peduli terhadap negeri ini, masih mau mengoreksi kebijakan aneh para pejabat negara. Tidak diam sambil asik dengan dunianya sendiri.
Hanya, kegiatan demonstrasi itu sebaiknya dijadikan gerakan jangka pendek saja bagi mahasiswa – mahasiswa. Gerakan jangka panjangnya? Para akademisi bisa bergerak dari dalam. Dari dalam pemerintahan yang korup ini, mereka harus bisa masuk ke pemerintahan dan mengubah segala birokrasi, konspirasi, politik busuk para pejabat. Hancurkan sendi – sendi korup pejabat negeri ini, dukung pemberantasan korupsi di negeri ini. Jangan terbawa arus korupsi.
Jadi, mengapa masih mau – maunya apatis terhadap negeri ini. Ketidak pedulian anda berkah mereka. Sangat disayangkan kalau masih banyak generasi muda yang belum terkontaminasi korupsi, yang anti korupsi hanya bersikap diam. Hanya asik dengan dunianya sendiri, dunia maya?

Kamis, 08 November 2012

Cinta?



Apa kau mencintaiku?

Kau pasti dengar pertanyaan ini,

Kau mau menjawab dengan apa?

Dengan yang kau beri selama ini?

Tafsirku masih bias dengan jawabanmu,

Saat kebaikan kau beri, ku anggap itu jawaban “Ya”,

Saat keburukan yang kutemukan, ragu yang ada dikepala.

Apa aku mencintaimu?

Seharusnya, “Ya”,

Tapi kau menyangsikan jika hanya lisan,

Kau minta lebih,

Kepercayaanku, waktu untuk memuja – memuji, minimal lima kali sehari untuk menjalin keintiman,

Sisanya tuntutan kebaikan, kebaikan, kebaikan,

Apa kau mencintaiku?

Aku tidak ingin hanya lisanmu, sama sepertimu,

Apa kau mencintaiku, TUHAN?..

Gema



Tengah malam,

Hening terpecah dikepala,

Aku berteriak, teriak, teriak,

Tak ada yang mendengar,

Semua terlelap dalam dekapan piyama, sibuk dengan mimpi,

Tak ada yang janggal,

Tak mungkin daun telinga menangkapnya,

Suara ini yang terdengar hanya didalam sini,

Berkecamuk, membentur dinding tengkorak sebelah kanan, balik menghantam sisi kiri, depan – belakang,

Ruang kepala penuh gema, gema yang terdengar sampai ke arasy,

Dia mendengar, hanya Dia...

Dua Sisi


Dinginnya angin malam tidak mengurungkan niat mereka, pakaian minim menjadi seragam dinas mereka tiap malam. Dandanan sensual mengaburkan temaram. Latar belakang tembok kusam semakin menegaskan tampilan mereka yang mencolok matamata pengguna jalan yang lalu lalang disepanjang jalan bekasi timur, seberang lembaga permasyarakatan cipinang lebih tepatnya.
“Lacur” dalam kamus besar bahasa indonesia berarti malang, celaka, gagal, sial, tidak jadi. Arti kedua dari kata yang sama mempunyai arti kelakuan tidak baik. Dalam kata kerja, “melacur” mempunyai arti menjual diri. Dalam kata sifat, “pelacur” mempunyai arti sundal, wanita tuna susila.
Itulah mereka, wanita yang menjajakan dirinya sendiri. Menjajakan diri kepada nafsu syahwat pria – pria. Mereka membarter dengan uang dari setiap pria yang menumpahkan nafsu di tubuh mereka. Apakah uang yang mereka dapat sepadan dengan apa yang mereka sewakan? Itu menjadi urusan mereka pribadi dengan batinnya.
Sebenarnya kita tidak bisa hanya melihat semata – mata tentang pelacur yang mencari uang dan hidung belang yang butuh pelampiasan. Dari kaca mata imajinasi liar saya, hubungan antara uang dan nafsu dari kedua belah pihak antara pelacur dan hidung belang mempunyai sisi – sisi yang terselubung oleh tirai hitam perbuatan dosa mereka yang diekspose berlebihan luarnya saja. Menelanjangi semua keburukan profesi mereka. Hina, sundal, murahan, menjijikan, laknat, biadab, apalagi? Masih ada yang kurang?
Berita tentang kriminalisme semakin sering menghiasi program berita televisi. Pemerkosaan menjadi topik yang sering muncul. Sebagian besar pelaku dan korban adalah orang yang sudah saling mengenal, bahkan ada yang masih mempunyai ikatan kerabat. Nafsu memang datang kapan saja, jika tidak pintar – pintar mengendalikannya atau tidak puas dengan pelampiasan oleh diri sendiri, bahkan tak puas dengan pasangan, pemerkosaanlah yang terjadi dan berakhir di jeruji besi yang sebelumnya melewati lensa berita kriminal. Dan yang lebih parah lagi, bagaimana dengan nasib korban? Trauma, depresi, malu, terpukul. Meski tidak sedikit juga yang bisa bangkit dan menjalani hidup dengan normal.
Nafsu yang disalurkan pada tempatnya, tanpa merugikan orang lain. Terlalu polos jika menyarankan berhubungan saja dengan pasangan, dalam hal ini istri atau kekasih, atas dasar suka sama suka tentunya. Pelaku didominasi orang – orang yang kesepian karena belum punya pasangan atau terpisah oleh pasangannya. Motif lainnya dikarenakan terangsang karena melihat si korban. Mereka tak jarang cenderung menyalahkan pakaian si korban yang mengundang birahi. Mereka melupakan otak mereka yang sudah kotor dan banyak dihuni setan – setan.
Di kasus lainnya, pelaku terangsang setelah menonton “film biru”. Mereka latah dengan nafsunya, kemudian mencari pelampiasan. Dalam kasus ini, “film biru” selalu diperankan aktris dengan paras sempurna, mungkin bagi mereka yang sudah punya pasangan pun akan mencari pelampiasan lain, tergiur tubuh sang aktris. Secara fisik pasangan mereka terlalu jauh dengan para aktris film biru tersebut. Mereka cenderung mencari yang lebih segar, dalam arti sesuatu yang baru selain yang setiap malam mereka lihat diranjang. Yang mungkin tak sedikit dari mereka sudah melihat pasangannya seperti guling dan bantal, aksesoris pelengkap ranjang. Berlebihankah?
Dari sinilah imajinasi liar saya menyimpulkan tentang, sisi lain dari keberadaan pelacur yang seperti penadah nafsu yang harus disalurkan. Jika saja tidak ada profesi seperti pelacur, berapa banyak tingkat persentase angka pemerkosaan? Saya rasa lebih banyak lagi dari saat ini.
Menurut saya jangan terlalu menghujat profesi mereka jika anda tidak pernah dirugikan oleh keberadaan mereka. Memang benar tentang segala dosa mereka, resiko penyakit yang mereka bawa dan segala hal negatif dari keberadaan mereka. Tapi cobalah untuk melihat sesuatu dari dua mata. Jika disisi kiri sesuatu yang negatif, maka kita juga harus membuka mata sebelah kanan dimana terdapat sisi positifnya. Minimal sudut pandang lain dari yang biasa kita lihat.
Apa mereka menginginkan keadaan seperti itu? Menurut saya tidak. Apa mereka punya kesempatan untuk berubah? Tentu saja, hal itu selalu ada.
Saya tidak menyarankan untuk menghalakan pekerjaan mereka, itu urusan Tuhan. Tapi cara haram mereka dalam menghasilkan uang lebih baik dari pencuri, perampok terlebih lagi koruptor. Mungkin uang mereka sama haramnya, tapi mereka tidak merugikan korbannya. Perlu dipertanyakan yang disebut “korban” disini. Apakah lelaki hidung belang, pasangan para lelaki hidung belang atau bahkan pelacur itu sendiri?

Jumat, 10 Agustus 2012

Eksekusi


Goresan diagonal melintang diantara empat goresan vertikal. Tembok lembab bercorak abstrak kusam yang lima hari telah kusandari. Kepala dingin tertular dinginnya tembok kusam, begitupun pundak hingga lengan. Bola mata meratapi goresan oranye dari sisa pecahan batu bata yang kubawa dari luar sel.
Dua goresan lagi, goresan sisa umurku. Aku mengetahui sisa umurku, begitu juga hakim, jaksa, sipir, dan juga ibuku yang beberapa hari ini sibuk dengan air matanya. Aku harap Tuhan memberinya cukup air mata untuk dua hari kedepan. Dan menggantikannya dengan do’a di hari – hari selanjutnya.
****
Tanah keluarga yang hijau meski tak seberapa luasnya. Kemarin kami semua masih hidup dengan damai di atas tanah yang subur. Perkebunan kelapa sawit hanya berada di ujung pinggiran desa kami−di perbatasan negeri.
Mobil dengan cat mengkilap menerjang diatas jalan tanah berdebu yang tak terjamah aspal. Beberapa orang keluar dari pintu yang ditutup dengan hati – hati. Menyebarkan pandangan ke perkebunan dan sawah penduduk desa. Mata mereka terpantul hijau dedaunan. Tapi mata yang hijau selalu identik dengan uang. Entah faktor yang mana yang membuat mata mereka jadi terlihat hijau.   
Seorang lelaki paruh baya yang terlihat paling jumawa, menatap hijau dari balik kaca mata hitamnya. Seseorang disebelahnya melebarkan gulungan kertas yang dibawanya, membentangkan didepan si jumawa. Seseorang lagi disisi lainnya si jumawa memainkan jarinya dengan gemulai. Sesekali menunjuk kearah kertas, sesekali menyebarkan telunjuknya ke arah Hamparan hijau perkebunan desa. Si jumawa mengangguk – anggukan kepala. Gerombolan si jumawa melesat dengan mobilnya meninggalkan Hamparan hijau, menyebrang gapura perbatasan ke negeri tetangga.
Sumpah serapah warga mengiringi kedatangan kepala desa beserta beberapa orang bersetelan necis. Sejauh ini aku belum tahu apa berita yang dibawa kepala desa−hingga membuat warga desa berserapah.
“Tanah perkebunan dan persawahan di Hamparan hijau masih secara sah milik pemerintah daerah. Kalian tidak perlu lagi menggarapnya.” Kepala desa memberi pengumuman di tepi tanah Hamparan hijau.
Warga menanggapinya dengan sumpah serapah, segala protes dan cacian menghujam kepala desa.
“Untuk kepentingan pendapatan devisa negara, maka Hamparan hijau akan diambil alih perusahaan sawit BERSEKUTU BERTAMBAH MUTU milik pengusaha sawit negeri tetangga.” Kepala desa melanjutkan pengumumannya.
Demi devisa, negeri ini mengais – ngais uang yang berserakan dibawah kaki pengusaha negeri tetangga. Pejabat negeri ini sudah menjadi penyembah berhala. Berhala uang.
“Hamparan hijau milik kami, milik negeri ini.” Komar berteriak membalas ucapan kepala desa. Dia memang selalu berseberangan dengan pemerintah, dia mempunyai jiwa oposisi.
“Bagi yang merasa mempunyai hak atas tanah Hamparan hijau, silahkan tunjukan bukti sertifikat kepemilikannya. Jika tidak ada, hentikan semua aktifitas di Hamparan hijau mulai sekarang.” Kepala desa membalas teriakan Komar.
Pagar – pagar bambu berdiri angkuh menghalangi keindahan tanah Hamparan hijau. Esok harinya pagar – pagar bambu bertumbangan, pihak perusahaan sawit kembali menancapkan pasak – pasak pagar bambu. Esok harinya pagar bambu sudah kembali tumbang. Perwakilan pengusaha sawit yang datang meninjau lokasi−geram, di sisi lain Komar tertawa – tawa. Dia tidak menyadari beberapa pasang mata mengawasinya.
Esok harinya pagar bambu berdiri kokoh. Berita hilangnya Komar menyebar dari mulut kemulut. Komar seperti ditelan bumi. Istri dan anaknya hanya bisa menangis. Semua warga desa tidak tahu dimana keberadaan Komar dan bagaimana keadaannya.
Sejak saat itu tak ada yang berani mengusik kokohnya pohon sawit yang berdiri di tanah Hamparan hijau.
Gerombolan pengusaha sawit kembali meninjau tanah jajahannya. Si jumawa menatap permukiman warga dari balik kaca mata hitamnya. Sayup – sayup logat melayu yang terbawa angin, berhembus menembus daun telingaku. Aku tak terlalu mengerti bahasanya.
Seseorang bawahan si jumawa membuka gulungan kertas, seseorang lagi menunjuk – nunjuk pemukiman warga. Si jumawa mengangguk dan sesekali tertawa.
“Untuk kepentingan pendapatan devisa negara, maka pemukiman ilegal kalian, akan diambil alih perusahaan sawit BERSEKUTU BERTAMBAH MUTU milik pengusaha sawit negeri tetangga.” Kepala desa kembali memberikan pengumuman di pinggir pagar bambu Hamparan hijau yang sebentar lagi beralih menjadi perkebunan sawit.
Untuk yang satu ini, kami bisa melawannya. Kami punya sertifikat sah kepemilikan tanah tempat tinggal kami.
Tengah malam yang seharusnya tenang berwarna gelap, berubah merah menyala. Kobaran api membakar ratusan pemukiman warga desa. Warga desa tak sempat menyelamatkan hartanya, bahkan beberapa tak sempat menyelamatkan nyawanya. Semuanya menjadi abu, termasuk sertifikat kepemilikan tanah tempat tinggal.
****
Corak hitam kusam tembok hotel prodeo mengingatkanku akan desa kami yang hangus terbakar. Lebih tepatnya dibakar. Aku melepaskan tinju kearah sketsa hitam di tembok. Darah merembes dari pori – pori kulit yang robek. Darah ini mengingatkanku pada si pengusaha jumawa.
****
Pagi hari yang sepi, sebagian besar warga desa telah meninggalkan desa mereka yang hangus. Aku masih disini−didepan gudang perkakas yang selamat dari kebakaran, menatapi perkebunan sawit yang sebelumnya Hamparan hijau.
Segerombolan orang turun dari mobil, begitu juga si pengusaha jumawa. Mereka menunjuk – nunjuk rongsokan desa kami yang hangus tebakar. Pandangannya bertemu sepasang mataku. Aku menghindar kedalam gudang perkakas. Parang yang beberapa bagiannya berkarat, tapi masih cukup kokoh untuk menebas batang leher seorang keparat.
Darah melumuri parang, membasuh bagian tubuhnya yang berkarat. Aku bertatapan dengan sepasang mata si jumawa. Sepasang mata dikepalanya, ya, hanya kepalanya. Parang ini masih kuat memutuskan batang leher seorang keparat dan lima orang budaknya.
****
Mereka menginginkan hukuman setimpal, tak ada perlawanan dari pihak manapun. Pimpinan negeri ini hanya prihatin sambil terus membungkuk dan menciumi tangan raja negeri tetangga.
Aku menerima saja. Apanya yang setimpal? Enam kepala dibalas satu kepala. Mereka  memang bodoh.