Powered By Blogger

Sabtu, 17 Januari 2015

Rupiah

Rp...

Begitulah mereka menyebut inisial oknum itu,

Bak rupanya yang punya dua sisi,

Begitulah manusia dibuatnya,

Dosa - Pahala,

Dusta - Fakta,

Baik - Buruk.

Batang Pensil



Mengkilat sudah matanya,

Tajam, siap menghunus,

Hari ini aku akan merampok,

Batang pensil ini saksi bisunya,

Dia pemeran utama,

Sang eksekutor, senjata penjemput darah,


Pemancing ngeri.

"@#$%^*&^%$#@@%&%&%&
?///??^&$^&%%@#@^%&&(^^
!!!!!!"

Inilah ujungnya,

Senjata tajamku hanya jadi rangkaian omong kosong,

Menggores kata,

Menusuki dada dengan tiap hurufnya,

Senjata makan tuan.

Sabtu, 01 November 2014

Ohh Ibu Pertiwi

Ibu pertiwi menatap jijik,
Tubuhnya habis dijamahi ribuan tangan majikan raja,
Keringat kotor mereka melumuri tubuh sang Ibu,
Paman Sam yang maha kuasa,
Raja Singa Laut Asia tenggara,
Naga Pendekar kungfu sakti mandraguna.

Tuan – tuan para penguasa meneteskan liurnya,
Dolar masuk kantung babi – babi tua,
Ibu pertiwi tersedu hendak dibawa kemana,

Dia masih tak rela menyalahkan kebejatan anaknya.

Kembang Gula



Wajah kembang gula merah jambu,
Hati bocah ini terayu menjilatimu,
Berapa keping receh rayu tuk menebusmu?
Tak sekeping bujuk rayu kupunya,
Apa bisa berhutang untuk hatimu?

Aku pulang memanggil ibu,
Dia kan menebusmu untukku.
Ijab ku rapal berkali – kali sepanjang jalan,
Jabat tangan dan mahar penanda “Sah”,

Malam nanti tubuhku kan lengket oleh kembang gula merah jambu.

PANGGUNG PARA PION


Arena hitam putih digelar diatas meja,
Genderang perang dibunyikan,
Api disulut, bensin disiram,
Pemuda jelata terbakar didada,
Mesin mereka panas membara, siap memangsa.

Mereka meracau bahasa yunani yang tengah digandrungi,
Pekik racauan bagai gagak hitam hendak menjemput ajal,
Akan ada yang mati.

Ribuan jelata memagari istana,
Raja lemah gemulai bersembunyi dibalik meja, memeluk sang bunda.
Ratusan jelata sisa berdiri untuk tempurung raksasa,
Tentara tanpa tanda jasa kokoh menggenggam senjata,
Siapa yang butuh senjata?

Bakar! Bakar!
Mereka berbicara tentang keadilan,
Bakar! Bakar!
Mereka berbicara tentang kebenaran,
Bakar! Bakar!
Mereka pion belaka yang ditumbalkan penguasa,
Bakar! Bakar!
Semua hangus dengan warna yang sama.

Pion berubah jadi abu,
Abu kan mudah hilang dan terlupakan,

Tak pernah menyentuh buku sejarah.

Menunggu Malaikat



Mikail tak terasa kehadirannya,
Berharap dia datang membawa sesuatu,
Yang berupa titipan-NYA,
Berdoa’a tuk kehadirannya,
Kirim dia sesuai tugasnya ya Rabb.

Masih menunggu,
Semoga izrail tak mendahului datang,
Jangan dulu datang malaikatku,
Jangan dulu membawa kedinginan dan mengajak pulang,
Aku ingin berlama – lama,
Sampai diujung sana,
Mendengar Israfil meniup Sangkakala.

Apa yang kupunya sekarang?
Apa yang akan dilakukan Munkar – Nakir  nanti diruang gelap itu,
Disebelah kiri Atid lebih sering mencatat ketimbang Raqib,
Sepertinya aku kan bertemu Malik,
Sampai waktu yang sangat lama bersihkan dosa dalam panas.

Minggu, 19 Oktober 2014

Puisi Cinta Lagi


CINTA itu gulanya rasa,
Semua – semua yang memakai kata CINTA disemuti manusia.
Umpama mampu kujual CINTA, hingga ku kaya,
Kemudian aku hanya bisa berdusta, menyembah berhala,
Dan mati dilaknat dosa.

Semua  yang waras menyukai bau CINTA,
Sampah yang berbau CINTA pun akan terus dikenangnya,
Tak pernah dibuang apalagi hangus terbakar, kalau bisa didaur ulang.

Di ruangan ini banyak berserakan CINTA,
Berbagai macam rupa mereka melukis CINTA,
Berbagai macam suara mereka mengucap CINTA,
CINTA, CINTA, CINTA..
Semua punya rasa yang sama, hanya beda merah, biru, hitam, putih, kelabu atau jingga.

Mereka bilang CINTA itu gila, CINTA itu buta, CINTA ya CINTA,
Entahlah, aku bodoh dalam bercinta, nilaiku NOL BESAR,
Kekasihku bosan disudut ranjang.

Suatu hari, aku kan belajar tentang CINTA,
Aku jatuh, Kemudian bercinta,
Mungkin aku kan gila, mungkin juga buta, 
Seperti mereka, para pemuja berhal